och_tha RoSmaLIatIni











{September 4, 2009}   Ketika Manusia Berjumpa Sains

SEJARAH telah mengajari manusia bahwa peradaban adalah siklus. Maka, ketika Eropa berada dalam masa yang sesak dengan kebodohan dan takhayul, sementara pada saat yang sama di belahan bumi lainnya telah tergelar peradaban yang amat terang, siklus itupun menagih janjinya. Yang pertama kali masuk menyelinap ke Eropa saat itu tentu saja adalah sains, sang panglima peradaban dan sang peretas jalan baru.

Kedatangan sains di tengah kegelapan bangsa Eropa ibarat ratu adil yang sudah lama ditunggu segenap rakyat yang mendamba kesejahteraan dan kemakmuran. Begitu sains mulai diterima dan hidup di Eropa, maka segenap kebodohan dan segala hal yang karib dengan takhayul atau irrasionalitas lantas dimusnahkan dan tidak diberi ruang untuk berkembang. Laiknya sebuah kelahiran apa saja, lagi-lagi kesadaran baru yang dihadirkan sains ini telah memindah masyarakat Eropa menuju sebuah era yang sama sekali belum pernah terbayangkan sebelumnya. Kelak, orang-orang menyebut era itu adalah era modernisme. Sekali lagi, inilah salah satu janji perubahan yang dibawa oleh sains setiap kali ia masuk ke tengah-tengah peradaban.

Modernisme masuk ke dalam peradaban Eropa dengan segudang janji untuk membebaskan manusia dari kebodohan dan irrasionalitas. Di era ini, rasio manusia betul-betul diagungkan. Tokoh kuncinya adalah Descartes yang dengan gagahnya menggemakan skeptisisme, cara pandang terhadap apapun dengan cara meragukan apapun juga. Semua yang ada di sekitar harus diragukan, bahkan termasuk diri sendiri. Puncak dari keragu-raguan itu adalah menemukan sesuatu yang sudah tidak bisa diragukan lagi yaitu pikiran, cogito ergo sum, saya berpikir maka saya ada. Apabila diungkap dengan cara yang lain, Descartes sesungguhnya sedang meneriakkan perlunya penekanan rasio dalam ikhtiar untuk mengenal realitas. Dalam sebuah upaya memahami realitas ini, manusia adalah subjek dan dengan demikian ia menjadi pusat epistemologi. Dalam cara pandang ini, manusia memang memiliki keistimewaan.



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain